Mengapa Masih Perlu Ikut Misa kalau Rasanya Cuma Menggugurkan Kewajiban?

Dionisius Rizky
2026-08-24
3 min read
9 Views
Mengapa Masih Perlu Ikut Misa kalau Rasanya Cuma Menggugurkan Kewajiban?

Pernah nggak kamu duduk di bangku gereja hari Minggu, tapi pikiranmu melayang ke mana-mana?

Fisik memang hadir di dalam gereja, ikut berdiri, berlutut, dan menjawab salam imam secara otomatis. Tapi di dalam hati, kamu merasa kosong, hampa, atau bahkan bosan. Rasanya ikut Misa cuma sekadar formalitas mingguan biar nggak merasa berdosa atau biar nggak ditanya-tanya orang rumah "Sudah ke gereja belum?"

Kalau kamu pernah atau bahkan sedang merasakan hal ini, jangan buru-buru merasa bersalah atau menganggap dirimu orang Katolik yang gagal. Dinamika ini sangat wajar dialami oleh siapa saja, terutama di masa muda ketika rutinitas hidup mulai menyita banyak energi.

Pertanyaannya, kalau memang rasanya cuma hambar dan menggugurkan kewajiban, kenapa kita tetap perlu datang dan ikut Misa?

Jawabannya sederhana yaitu karena cinta dan komitmen tidak selalu bergantung pada perasaan yang sedang meluap-luap.

Coba bayangkan sebuah hubungan pertemanan atau pacaran. Kalau kamu cuma mau menemui seseorang saat suasana hatimu lagi bahagia atau bersemangat, hubungan itu nggak akan bertahan lama. Kedewasaan sebuah relasi justru teruji saat kita tetap memilih hadir meluangkan waktu, bahkan ketika kita sedang capek, jenuh, atau tidak merasakan emosi yang meledak-ledak.

Kehadiran kita di Misa hari Minggu pun sama. Itu adalah wujud komitmen cinta kita kepada Tuhan.

Saat kamu merasa Misa cuma rutinitas yang membosankan, ada tiga sudut pandang yang bisa membantumu melihat altar dengan cara yang berbeda.

Pertama, Ekaristi bukan tentang apa yang kita rasakan, melainkan tentang apa yang Tuhan berikan. Misa bukanlah panggung hiburan atau konser musik yang tujuannya memicu adrenalin dan rasa senang sesaat. Inti dari Misa adalah kurban Kristus yang nyata di atas altar. Terlepas dari apakah khotbah pastor terdengar menarik atau paduan suaranya sedang pas-pasan, Kristus tetap hadir seutuhnya membagikan Tubuh dan Darah-Nya sebagai santapan jiwa kita yang lapar.

Kedua, kita butuh diisi ulang justru saat kita sedang kosong. Banyak orang berpikir bahwa kita harus berada dalam kondisi rohani yang prima dulu baru pantas datang ke Misa. Padahal kebalikannya. Yesus datang bukan untuk orang yang merasa dirinya sudah sehat dan kenyang, melainkan untuk orang yang sakit, lelah, dan kehabisan tenaga rohani. Misa adalah rumah sakit bagi jiwa-jiwa yang terluka oleh kerasnya dinamika hidup sepanjang minggu.

Ketiga, disiplin rohani menjaga kita tetap di jalur yang benar. Melakukan sesuatu karena komitmen atau kewajiban bukanlah hal yang buruk. Saat seorang atlet tetap latihan lari di pagi buta meski malas, disiplin itulah yang membentuk kekuatannya. Begitu juga dengan Misa mingguan. Kebiasaan untuk tetap hadir setiap hari Minggu menjaga akar iman kita tidak tumbang saat badai masalah tiba-tiba datang menerpa hidupmu.

Di hari-hari ketika langkah kakimu terasa berat menuju gereja dan hatimu merasa datar, justru di situlah persembahanmu menjadi sangat bernilai di mata Tuhan. Kamu memilih untuk tetap datang dan mengetuk pintu rumah-Nya, bukan karena suasana hatimu sedang bagus, melainkan karena kamu tahu kamu membutuhkan-Nya.

Jadi, Minggu depan saat kamu merasa hampa di bangku gereja, cobalah berbisik jujur dalam hati: "Tuhan, aku sedang capek dan hampa hari ini, tapi aku tetap memilih datang untuk menemui-Mu."

Warta Tidak Ditemukan | Paroki Santo Yakobus Bantul